Peserta GFNY Terhipnotis Keindahan Laut Utara Lombok

by Emen Ardiansyah

Genpilomboksumbawa.com, Senggigi – Event balap sepeda seri dunia Gran Fondo New York berlangsung sukses. Hal yang paling memuaskan adalah ketika para peserta yang pernah mengikuti event serupa pada oktober 2016 lalu kembali berpartisipasi pada tahun ini dan mengakui bahwa pelaksanaan GFNY Indonesia di Lombok tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Kegiatan yang dilepas oleh Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara di depan hotel Holiday Resort, Mangsit, Senggigi inipun tidak lepas dari  beberapa hal yang menarik terutama terkait pengalaman yang dialami oleh para peserta kegiatan.

Diikuti oleh lebih kurang 800 peserta dari 35 negera, GFNY Lombok tahun ini menyajikan beberapa hal yang menarik dari kalangan peserta. Rute balapan yang disetting untuk melewati destinasi-destinasi pariwisata ternyata membuat para peserta menjadi ‘Salah Fokus’. Flag-off yang dilakukan pada pukul 06.00 wita dari kawasan mangsit,
kemudian diteruskan dengan penelurusan jalan berliku dan mananjak di kawasan senggigi, melewati destinasi di dalam Kota Mataram seperti Kota Tua Ampenan dan Islamic Center. Tidak terhenti di situ, keseruan balapan semakin terlihat ketika para peserta memasuki perbatasan antara Lombok Timur dan Lombok Barat.

Pusuk Pass dengan suhu dingin, ketinggian bukit serta jalan yang menanjak dan berliku menjadi tantangan dan menghadirkan keseruan tersendiri bagi para peserta. pasalnya, di kawasan ini tingkat kefokusan peserta sangat diuji, jalur menurun dan berliku dan dikelilingi jurang terjal memberikan kesan ekstrim di pertengahan jalan yang ditempuh. Namun, meski demikian para peserta tetap merasa terhibur dengan tingkah jenaka dari para monyet yang berkeliaran di daerah tersebut. terlebih jika sesekali ada monyet yang dengan sengaja mencoba menyapa para peserta GFNY.

Sebuah titik yang banyak diakui sebagai favorit dari para peserta adalah jalur pantai utara atau jalur kembali menuju garis finish. Jalur utara ini membuat para peserta menjadi gagal fokus. Beberapa diantara para peserta  menghentikan ayuhan sepedanya dan mencoba untuk mengabadikan momen keindahan pantai utara dengan melakukan swafoto, seakan-akan mereka tidak memperdulikan perlombaan yang sedang berlangsung. Dengan berlatar belakang tiga gili, hamparan lautan yang luas, tentu sangat disayangkan jika momen tersebut tidak diabadikan.

Beberapa peserta yang ditemui ketika memasuki garis finish mengakui keindahan Lombok. Mereka pun mengakui akan kembali lagi ke Lombok namun tidak untuk mengikuti sebuah perlombaan, melainkan untuk berlibur. seperti yang dikatakan Bram asal Belgia, salah seorang finisher pertama untuk kelas 18-39 tahun. “Lombok is nice. i like the peoples, they’re friendly. i will back again to Lombok, special for Holiday with my family.”

Senada dengan Bram, Pak teguh yang merupakan seorang dokter spesialis dari Jakarta yang merupakan finisher kedua untuk kategori 55-59 tahun pria pun juga mengatakan hal serupa. “Ini adalah kali kedua saya mengikuti GFNY di Lombok. saya sangat senang dengan pemandangan yang ada di Lombok, dan Jalur Utara sebelum menuju finish adalah favorit saya”, akunya.

 

You may also like

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.