Event

Syukur Bumi di Maulid Adat Bayan 2020

Sabtu dan Minggu, akhir pekan kemarin berlangsung Maulid Adat Bayan. Dua hari berturut-turut di tanggal 31 Oktober serta 1 Nopember 2020. Acara adat rutin ini, sebagai bentuk penghormatan di hari lahirnya Rasulullah. Sekaligus wujud syukur kepada Tuhan atas berhasilnya panen warga.

Runtutan prosesi selama dua hari, dimulai sejak pagi. Sampai acara puncak di hari kedua, atau yang bertepatan dengan 15 Rabi’ul Awal. Hal unik lainnya dari acara adat ini, semua pelaksana prosesi, wajib mengenakan pakaian adat Bayan. ‘Nyapuk Mendodot’ bagi semua laki-laki dan perempuan, dimana mereka tidak mengenakan pakaian dalam masyarakat modern.

Menumbuk padi di Maulid Adat Bayan
Menumbuk padi di Maulid Adat Bayan

BACA LAGI: Virtual Tour Desa Adat Bayan

Menyembek oleh Inan Meniq di Hari Pertama

Sabtu pagi, prosesi mulai dengan menuju Kampu atau ‘Bale Beleq’. Kampu adalah desa awal masyarakat Bayan. Di sini, rombongan masyarakat menyerahkan hasil bumi kepada Inan Meniq, sebagai tanda bersyukur atas keberhasilan panen. Pada prosesi ini, ada pula ritual adat Menyembek’, yaitu Inan Meniq menandai dahi warga yang menyerahkan hasil bumi dengan Pamaq (lumatan dari campuran daun sirih, tepung kapur, buah pinang).

Gadis baru akil baliq dimandikan di Maulid Adat Bayan
Gadis baru akil baliq dimandikan di Maulid Adat Bayan

Selanjutnya Inan Meniq akan mengolah hasil bumi ini, untuk kemudian disajikan kepada para tokoh masyarakat, seperti para kyai, penghulu, tokoh adat, nanti di acara puncak. Berikutnya masyarakat membersihkan Balen Unggun (tempat sekam atau dedak), Balen Tempan dan Rantok (set alat menumbuk padi).Alat-alat lain yang juga dibersihkan, ada tempat Gendang Gerantung. Yang lainnya, menjemput Gamelan Gendang Gerantung. Saat gamelan ini tiba, masyarakat melaksanakan ritual penyambutan Ngaturan Lekes Buaq (set sirih dan buah pinang), sekaligus menandai pembukaan keseluruhan rangkaian acara Maulud Adat.

Menutu atau Menumbuk Padi di Maulid Adat Bayan

Masih di hari pertama, sekitar pukul 15:30 yang juga disebut masyarakat Bayan sebagai waktu ‘Gugur Kembang Waru’, para perempuan mulai menumbuk padi. Selama menumbuk padi, mereka mengikuti irama alat musik Tempan yang terbuat dari bambu panjang. Proses menumbuk dilakukan di lesung seukuran perahu yang disebut ‘Menutu’.

Di saat bersamaan, Gamelan Gendang Gerantung mengiringi ritual mencari ‘Tumbul’ atau bambu tutul, untuk bahan pembuatan penjor. Penjor ini akan dipasang di pojok Masjid Kuno Bayan (pemasangan tumbul). Khusus ritual pencarian bambu sampai pemasangan penjor, hanya diikuti laki-laki. Pemangku atau Melokaq Penguban menjadi pemimpin ritual, yang sebelumnya telah direstui Inan Menik.

Penyerahan Hasil Bumi kepada Inan Meniq di Maulid Adat Bayan
Penyerahan Hasil Bumi kepada Inan Meniq di Maulid Adat Bayan

Prosesi hari pertama berlangsung sampai malam hari. Nama ritualnya ‘Ngegelat’, yakni proses mendandani ruangan Masjid Kunodengan simbol-simbol yang sarat makna. Gamelan Gendang Gerantung mengiringi prosesi ini dan bersama-sama memasuki ruangan masjid. Saat inilah masyarakat memasang penjor-penjor dari bambu tutul yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Baik di prosesi menumbuk padi dan Ngegelat, masyarakat juga menggelar Presean atau Semetian (istilah di bahasa Sasak masyarakat Bayan). Pertarungan dua Pepadu, menggunakan perisai dari kulit kerbau dan tongkat pemukul dari rotan. Keseruan pertarungan di Presean ini, menjadi tontonan tersendiri di samping khidmatnya pelaksanaan setiap prosesi adat. Keseluruhan rangkaian di hari pertama, ditutup dengan ‘Berugaq Agung’, wadah diskusi berbagai hal dan saling bercerita.

Prosesi mencuci beras di Maulid Adat Bayan
Prosesi mencuci beras di Maulid Adat Bayan

Praja Mulud sebagai Puncak Maulid Adat Bayan di Hari Kedua

Minggu, hari kedua, dilanjutkan dengan prosesi ‘Menampiq Beras’ atau membersihkan beras. Para perempuan mengenakan pakaian adat Bayan, menjunjung bakul berisi beras dan berjalan beriringan menuju mata air, lokasi membersihkan beras. Mata air ini bernama ‘Mata Air Lokoq Masan Segah’. Persyaratan khusus rombongan pencuci beras, adalah para perempuan yang sedang suci (tidak sedang haid). Pantangan lainnya, tidak boleh berbicara, menoleh, serta memotong jalan barisan rombongan pencuci beras.

BACA LAGI: Diving di Gili Air, Spot Wisata Terdekat dari Desa Adat Bayan

Rombongan Praja Mulud di Maulid Adat Bayan
Rombongan Praja Mulud di Maulid Adat Bayan

Prosesi berikutnya ‘Mengagiq’, yaitu menata semua hidangan (termasuk nasi yang dimasak langsung usai pencucian) di atas ‘Ancaq’.  Sorenya, prosesi ‘Praja Mulud’ atau para pemuda, diarak dari rumah ‘Pembekel Beleq Bat Orong’ (Pemangku Adat dari Bayan Barat). Arakan rombongan ini seperti pasangan pengantin, bergerak menuju masjid, juga menggambarkan prosesi perkawinan Adam dan Hawa.

Setelah rombongan sampai di masjid, pemuka agama memimpin doa dan acara puncak Maulid Adat Bayan berlangsung di momen ini. Ratusan ‘Ancaq’ berisi hidangan yang diolah dari hasil bumi masyarakat Bayan, dinikmati bersama. Penutup dari rangkaian prosesi adat, sebagai wujud syukur warga atas hasil panen yang berlimpah.

Tim Peliput Lapangan: Jackysan, Ihsan, Toni dan Kanzul.

Penulis: Muslifa Aseani

Genpi LS

Generasi Pesona Indonesia (Genpi) adalah komunitas volunteer yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata RI. GenPI lahir berawal dari relawan pariwisata Wonderful Lombok Sumbawa yang termotivasi untuk meningkatkan peran digital dalam promosi pariwisata melalui media sosial. Read more...

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button